Minggu, 15 April 2012

Dimana DIA (Nya) atau ENGKAU (Mu)


Mengapa setelah Kususuri lorong-lorong indah dan keruh, tetap saja ku tak menemukanNya. Kusimpuhkan raga ini di hadapanNya setidaknya lima kali dalam sehari, kubuka manuskrip kalam agungNya dan mencoba meresapi pesan-pesan transendenNya, kusengaja perut ini kosong untuk meletihkan diri dan memelas padanya, setidaknya empat jam dalam 24 jam hidupku dalam dua tahun ini kupasrahkan jalanku padaNya, sedikit banyak untaian wirid pagi dan sore membasahi bibir ini meskipun kadang tak istiqomah, kugerakkan kepalaku berisyarat tidak ada selainNya saat lailahaillallah” sebagai wujud ketundukan makhluk, gelaran sajadah panjang bumiNya pun tak mau menunjukkanku padaNya. Dan sebaliknya. Imaji kotorku berkelindan saat melihat makhluk terindahNya, ucapan-ucapan kotor sebagai kesengajaan saraf otak kananku, regukan asap kotor nikotin yang merusak kredibiltas dan konsentrasiku, hembusan kentut panjang dan intens yang membuat jengkel sahabat2ku, kegemaranku berdusta padaNya dan makhlukNya, Kata-kataku “ku kan berguru pada syetan” pun tak kuasa menuntunku pada samudra keindahanNya. Akupun mencarinya dalam lembah kegelapan dosaku berharap menemukanNya. Dari semua itu “MENGAPA KU BELUM MENEMUKANNYA?”
Apakah karena aku masih menyebutNya dengan “NYA”?
Bagaimana jika kusebut DIA mulai sekarang dengan “ENGKAU”

Kamis, 16 Februari 2012

WANITA PUCATPASI DI PMI KOTA MALANG

Rabu, 15 februari 2012 kemarin aku liat seorang mbak, dengan wajah lusuh dia termenung duduk di kursi tunggu PMI kota Malang. Dilihat sepintas, tak mungkin dengan wajah pusat pasinya itu dia akan menyumbangkan darahnya. Tanpa berfikir panjang aku terus melangkah ke bagian resepsionis, sambil mendorong temanku agar mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk donor. Tak lama kemudian, petugas bagian periksa HB dan tensi darah memanggil seseorang yang siap donor. Anehnya, dengan tergesa-gesa mbak yang berwajah pusat pasi itu segera beranjak dari duduklamunnya, dan mendekati meja periksa. Dengan sedikit tergesa-gesa, "pak, darah sampean apa?" mbak itu bertanya. Sang bapak belum sempat menjawab, si petugas periksa berkata "ini pak, ibunya lagi butuh darah cepat." "Darah saya O",saut bapak. Kulihat raut pucat dari wajahnya itu sedikit berubah cerah dengan senyum kecil yang tersimpul dari bibirnya. Kemudian petugas periksa tadi berkata, "pak nanti kalau masuk ke ruang donor sampean bilang, saya donornya bu Mujiati, ibunya mbak yang di luar itu". "ya mbak" jawab bapak tersebut

Masih kulihat wajah pucat itu masih mendominasi aura wajahnya. Dan benar, ternyata bapak yang telah masuk tadi adalah donor pertama yang menyumbangkan darah O nya untuk ibunya. ku tahu hal tersebut dari perkataan ptugas periksa, "Kurang 3 lagi mbak, sabaar yaa". Mbak itu kulihat hanya bisa mengangguk. Saat itu, dudukku memang tak seberapa jauh dari anak yang kawatir akan keselamatan ibunya tersebut. Dengan lirih “ Dam, getihmu opo?” aku bertanya. “O, mas”, teman nyanti sekamarku namanya Damiri menjawab. “sip, cocok, podo lek ngono” aku menimpali. “ Ainun Damiri”, petugas periksa memanggil temanku. Diapun akhirnya diperiksa, dan alhamdulillah HB dan tensinya normal. Petugas itu juga berkata pada Damiri, “ mas, nanti kalau di dalam, bilang ”saya donornya bu Mujiati”. ” Ya mbak”. Jawab damiri. Petugas periksa itupun akhirnya memperlakukanku dengan cara yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Damiri.

Akhirnya datang waktu dimana temanku dan aku masuk ruang donor. Sekitar 10 menit darah dipompa keluar dari tubuh, kulihat Damiri keluar terlebih dahulu. Tak berapa lama, Akhirnya aku pun keluar. Saat keluar, tak kudapati lagi wajah pucatpasi itu di tempat duduknya semula, kucari-cari tetap tak ada. perasaanku saat itu bercampur baur. Apa yang terjadi? Saat darah O masih terkumpul 3 ampul, mengapa mbak itu hilang? Tak sabarkah dia menunggu satu pendonor lagi? “jangan-jangan, di sudah bergegas ke Saiful Anwar, apa yang terjadi pada ibunya? Aaahh, aku tak mau menerka-nerka”, hatiku bicara. Tak lagi aku punya keberanian, padahal hanya untuk bertanya pada petugas “kemana mbak yang butuh darah tadi pergi”. “Mas, ayo mulih!” , ajak Damiri membangunkan imajiku. Akhirnya kami putuskan saat itu untuk pulang. Sesaat setelah berpamitan dengan petugas periksa dan sebelu kuhidupkan mesin Vega Rku, tiba-tiba Damiri berkata “mbak iku mau ibu’e kenek kanker rahim mas”. Seperti petir di siang bolong, ucapan Damiri itu semakin melemaskan seluruh sendi tubuhku. “ aaayo mas!”, sekali lagi Damiri meyakinkanku untuk pulang. “ Iyo “, jawabku. Akhirnya kami pun kembali menyusuri jalan menuju pondok.

Kamis, 12 Januari 2012

TINGKATAN IBADAH SEORANG MUSLIM by al Ghazali


  1. IBADAH ALA SABILIL KHOUF : Ibadah seorang muslim dengan tendensi takut kepada Allah. Takut sebab dosa yang telah diperbuat, takut dijatuhi adzab oleh Allah jika tidak melaksanakan perintahnya.
  2. IBADAH ALA SABILIR ROJA’ : Ibadah seorang muslim yang tidak lagi karena takut, karena dia tidak melakukan dosa, baik kecil maupun besar. Ibadah pada tingkatan ini didasarkan pada pengharapan seorang hamba pada sesuatu yang ia inginkan pada Tuhannya.
  3. IBADAH ALA SABILIL KHUB : Pada tataran ini seorang hamba beribadah dengan tendensi cinta. Hamba tersebut tidak lagi takut jika tidak melaksanakan atau beribadah karena mengharap upah, tetapi dia beribadah secara totalitas karena cinta, cinta untuk kekasihnya Allah SWT. Seorang hamba pada tataran ini beribadah karena mengharapkan ridhoNya.

Rabu, 11 Januari 2012

BIAR SEMUA MAHLUK DI BLOGSPOT TAU KALO AKU BERHASIL ATAU GAGAL DENGAN DEADLINE INI

Minggu, 08 Januari 2012

MERENUNGI ISTILAH BERSANDAR


Bersandar pada tubuh yang kuat akan semakin menguatkan yang disandari. tetapi bagi pesandar, hal sebaliknya yang akan didapati jika terlalu lama bersandar. Semua hal yang menggantung akan ikut pada pokok yang digantunginya. Seperti tunas pisang yang menyatu pada induk, dia kuat karena bersatu. Tapi persatuan itu terdiri dari satu pokok yang kuat dan besar dan dikelilingi tunas-tunas kecil sebagai gantungan dari tunas besar yang pertama kali tumbuh. Telah menjadi hukum alam, jika ingin kuat maka melepaslah diri dari tempat yang selama ini kau anggap nyaman. Berjuang, babat alas dalam istilah jawa. Menjadi orang pertama yang mengusung idealitas untuk kebaikan anak cucu. Jadi, tak selamanya lepas itu jelek dan lengket itu baik. Logika di atas, disampaikan oleh KH. Marzuki Mustamar dalam bahasan bagaimana baiknya sebuah kerajaan berkembang dari masa ke masa. Beliau juga menggunakan logika yang sama dalam bahasan sebuah pesantren yang sudah banyak ning nang ning gusnya.