Rabu, 21 September 2011

PROBLEMATIKA RESEPSI PERNIKAHAN MASYARAKAT KITA

Menjadi sebuah bagian dari kritik sosial. saat resepsi  pernikahan terlaksana dengan mewah, bertempat di gedung bergengsi, dengan sajian, mahal, dan tampilan orang-orang borjuis. 
Masyarakat kita adalah masyarakat menengah ke bawah pada skala mayoritasnya, sehingga penulis menganggap perlu dan penting rasanya mengangkat masalah resepsi pernikahan ini.
berpijak pada tujuan resepsi pernikahan yaitu mempublikasikan kesahan atau legalitas hubungan seorang laki-laki dan perempuan pada keluarga dan masyarakat, kiranya penulis meminta masyarakat merefresh paradigma tujuan resepsi pernikahan. kesan pertama yang muncul dibenak kita hari ini saat mendengar resepsi pernikahan adalah  adalah amplop yang dibawa para undangan untuk si empu acara. tentu ini bertolak belakang dengan tujuan awal diadakannya resepsi pernikahan. bahkan, yang seharusnya undangan dan tuan rumah berbahagia dalam satu acara, karena muncul rasa berat dari para undangan sebab mereka datang harus dengan membawa "amplop" .
penelitian para pakar psikolog berkonsensus bahwa seluruh hal yang ada di sekitar kita akan mempengaruhi kehidupan kita. tidak terkecuali hati para undangan yang merasa berat dengan kedatangannya. Padahal, kehadiran undangan sesungguhnya dimaksudkan agar memberi doa bagi kedua mempelai dalam menjalankan hubungan pernikahan.
belum lagi saat mengkaitkan resepsi pernikahan yang mewah dengan keadaan masyarakat kita yang maaf dalam keadaan miskin. saat dihelat resepsi mewah di gedung bergengsi, beberapa masyarakat miskin kita senang karena mereka mendapat kesempatan untuk mencicipi makanan yang biasa mereka bayangkan. tetapi tak sedikit pula dari orang-orang proletar itu tidak menghadiri undangan resepsi mewah itu. Bukannya mereka tidak mau, tapi mereka malu dan segan untuk menghadirinya. mereka takut kalau-kalau saat mereka hadir di tengah-tengah undangan ada seseorang yang melecehkan keadaan mereka.
Bagi penulis semua manusia adalah sosiolog dan antropolog. dan untuk merasakan apa yang masyarakat terpinggir itu rasakan manusia tidak perlu menjadi profesor, terlalu tinggi. dengan nada persuasif, penulis menyampaikan:
  1. resepsi tidak perlu terlalu mewah, tetapi bukan berarti tidak boleh. yang terpenting adalah bagaimana sekiranya tidak ada yang berat dan merasa terluka saat perhelatan resepsi tersebut.
  2. dekonstruksi budaya Buwuh. dan meskipun memberikan amplop, selayaknya dimotivasi oleh dorongan beramal, bukan memberikan pinjaman yang akan dikembalikan saat pemberi amplop menggelar resepsi yang serupa.
  3. kesadaran masyarakat 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar